Handmade Shoes Kadirojo Tetap Berusaha Bertahan
Handmade Shoes Kadirojo Tetap Berusaha Bertahan
Di Padukuhan Kadirojo, Margorejo Tempel Sleman di kaki gunung Merapi yang berhawa sejuk ternyata memiliki pengrajin sepatu yang handal. Ia tinggal di sebuah rumah kecil bertingkat di antara keteduhan rumpun bambu. Rumah itu biasa saja, seperti rumah lainnya, tidak menyolok dan nampaknya tidak ada kegiatan apa-apa.
Sunarto, pengrajin sepatu, ketika ditemui pada tanggal 9 Juli 2025, mengajak naik ke lantai dua, barulah nampak sepatu-sepatu pesanan yang sedang dikerjakan. Kotak-kotak sepatu dan sepatu-sepatu yang sudah selesai bertumpuk di dinding. Nampak gulungan kulit, karet alas sepatu, lem dan beberapa mesin jahit.
“Ini pesanan sepatu PDL harus kuat”, katanya memperlihatkan sepatu lars kokoh. “Dan ini sepatu PDH, yang lebih lunak, semua sepatu saya bergaransi satu tahun”, tambah pengrajin yang sudah 25 tahun menekuni pekerjaannya itu. Selain memakai bahan yang bermutu tinggi, ia juga menjahit tangan sol sepatunya. “Jahitannya saya sembunyikan tidak nampak menyolok”, sambungnya.
Pemasarannya dari mulut-kemulut, dan ketika ditanyakan mengapa tidak menjual “on-line”, jawabnya. “Sepatu yang saya buat harus nyaman dipakai oleh pemesannya. Bentuk kaki orang tidak sama, ada yang gemuk, ada yang kurus panjang, ada yang lebar”, jawabnya. “Banyak orang yang tidak nyaman dengan nomor standard”, sambungnya. “Ada kaki yang panjangnya nomor 39, tapi atasnya nomor 41”, tuturnya. “Bahkan ada yang kiri-kanan tidak sama, rasanya sulit on-line, harus saya ukur langsung”, tegasnya
Ia mampu membuat sepatu dengan model sesuai pesanan pelanggan, “Kadang pelanggan memberikan gambar atau photo model yang diinginkan”, jelasnya. Ia menerima pesanan sepatu pria atau wanita, sandal atau selop. Dibantu oleh dua pekerjanya ia mampu menyelesaikan pesanan dua sampai tiga hari. Dengan label “By nar” ia mematok harga yang sangat terjangkau.
Ditengah membanjirnya serbuan sepatu buatan pabrik, pengrajin yang memimpikan memiliki show-room sendiri ini, masih setia pada profesinya. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)


