ASAL MULA JLEGONGAN
Terperosok ( Jlegongan )
Rombongan kemudian meninggalkan lokasi Keluwih dan menuju ke arah Barat.. Karena kereta sewaan telah ditinggalkan saat penyergapan di Degung, rombongan menggunakan kuda yang dinaiki Pangeran Suryaningalogo dan yang lainnya berjalan kaki. Sebuah sungai yang curam penuh dengan jeram dan batu-batu besar serta deras airnya menghalangi perjalanan mereka. Rombongan terpaksa menyisir sungai, sedikit ke arah selatan untuk mendapatkan tempat yang agak landai. Beberapa versi cerita tentang kejadian di tempat ini, penulis mengambil salah satu yang banyak diceritakan para pelaku, kemudian secara turun temurun dituturkan kepada anak cucu mereka.
Dalam penyeberangan itu, mereka tidak sadar bahwa di sela-sela rumpun bambu dan grumbul belukar, pasukan kecil dibawah pimpinan Kopral Marten bersembunyi mengintai. Sedang Letnan Kohn mengamati dari tempat ketinggian. Perkelahian antara Pangeran Amad (Muhammad) dan Kopral Marten terjadi dengan sengitnya. Kuda Pangeran terperosok di sela-sela batu, Sang Pangeran terjatuh namun berhasil melarikan diri, sementara banyak tentara Belanda yang terluka, termasuk Letnan Kohn dan Kopral Marten. (Slamet Suwanto, 2004).
Rombongan pelarian berbalik ke arah timur, sedang pasukan Belanda bergerak menuju Pos Tempel, untuk merawat yang terluka. Kereta rampasan dari Kanjeng Gusti Sekar Kedaton dipakai untuk membawa prajurit yang luka. Kopral Marten dengan tandu dibawa kembali ke Rumah Sakit Militer di Loji Benteng Vredeburg keesokan harinya.
Tempat kuda Pangeran terperosok itu, kini dikenal dengan dusun Jlegongan, yang artinya tempat kejlegong, yang dalam bahasa Jawa berarti terperosok. Lokasi itu tepatnya di dekat Jalan Magelang km 17,4; sedangkan sungainya adalah perbatasan antara dusun Gundengan dan dusun Jlegongan, keduanya berada di Desa Margorejo. Sungai itu kini mengairi sebuah Embung yang belum lama dibangun Pemda di Desa Mororejo Tempel guna memperbaiki kondisi air tanah.
Putri Sekar Kedaton terpaksa menunda kepergiannya ke Remame dan beliau ingat ada kerabatnya di wilayah ini yang menjadi Lurah di Kadisono, arahnya ke Timur Utara. Kesanalah rombongan kecl itu mencari t tempat persembunyian. ( Sadhono Hadi )