SITUS DOKREN MARGOREJO
Situs Dokren
Rombongan kemudian berjalan balik ke arah timur. Mereka kemudian menemukan sebuah sungai kecil yang airnya sangat bening dan dingin. Sungai kecil ini diyakini akan menuntun mereka menemukan Kademangan Kadisono, kemudian mereka menyusuri sungai menuju ke utara, ke arah Merapi. Mereka berjalan tanpa bersuara, selain langkah-langkah mereka yang bergesekan daun kering dan semak, mengikuti pengawal yang terdepan yang dengan golok panjang membuka jalan. Sampailah mereka ke sebuah belik (mata air) kecil, putri Sekar Kedaton mengusap keningnya yang berkeringat dengan ujung lengan kebayanya, kemudian ia berjongkok dan membasuh lengan dan mukanya. Air belik yang sangat dingin merambat ke seluruh tubuhnya membuat badannya segar kembali.
Tempat itu kini dikenal sebagai situs Dok-ren, diambil kari kata nDodok Leren, yang artinya berjongkok beristirahat. Lokasinya di timur kantor Kelurahan Margorejo, tepat dibelakang Lapangan Futsal Margorejo. Air dari sungai kecil itu mengairi beberapa kolam ikan milik penduduk setempat. Kearah selatan sungai itu ada di belakang dua Madrasah besar, kemudian membelah makam Cungkuk dan Pemandian Lembah Ngosit, melewati dusun Plumbon sampai di pinggir Panti Asuhan Baitul Qowwam. Sepanjang sungai itu banyak mata air, yang makin menambah debit air sungai.
Ke arah utara, sungai itu menuju ke dusun Kadisono, melewati makam Buddha tua yang diperkirakan masih satu masa dengan Candi Borobudur, karena menurut cerita turun temurun, cikal bakal dusun Kadisono adalah Budha Respati Wanasigra, atau Kyai Wanasigra. Konon Kyai Wanasigro ini salah satu yang ikut membangun Candi Borobudur. Makam-makam itu sudah hilang rata dengan tanah, tinggal dua makam berjejer, yang menurut penduduk makam Mbah Buddha. Selayaknya situs itu diamankan, sebelum diadakan penelitian lebih lanjut. Di sekitar dalem Singodikoro memang banyak ditemui bertebaran batu-batu pesegi hitam bahan candi ( Sadhono Hadi ).