SEJARAH KALURAHAN MARGOREJO ( NGEBONG )

Dusun Ngebong

Bong dengan lidah Jawa menjadi Ngebong, nama sebuah dusun di Desa Margorejo. Menurut cerita di dusun sekitar km 17 ini terdapat beberapa bekas makam Tionghwa yang tertimbun atau karena kuatnya menjadi alas bangunan. Dua sisa bongpay sampai saat ini masih bisa dikenali. Salah satu berada di halaman belakang rumah penduduk. Sisa tapal kudanya kemudian ditutup dengan susunan paving block tanpa semen, namun bagian tempat pembakaran, yang dulu dipakai saat festival Qingming (AF Sokhifah, 2017) masih utuh menyembul keatas. Artefak Bongpay seluas kira-kira 100 m2 di dalam halaman penduduk ini pernah di survey oleh petugas Provinsi DIY kemudian dipasang penanda patok sebagai tanah milik Sultan.

Bongpay kedua yang masih berdiri terletak di belakang Puskesmas, Bulak Kicu, Ngebong, jaraknya sekitar 700 meteran dari yang pertama. Makam ini terdiri dari empat deretan Bongpay, tiga diantaranya masih tertulis jelas huruf latin identitas penghuninya, diantaranya tertera wafat tahun 1912. Bongpay- ini tergolong sangat besar dan tinggi, dari permukaan tanah tingginya lebih dari dua meter. Bagian altarnya sudah tidak nampak, mungkin juga tertutup tanah. Semak dan pohon menutupi semua bagian makam dan identitas yang tertulis pada marmer berglazur hitam hanya bisa dikenali setelah semua semak yang menutupi dibabat. Dari sisa tugu gapura yang relatif masih utuh makam ini menempati tanah yang cukup luas.

Menarik untuk diteliti lebih lanjut mengapa Bong ini kemudian ditinggalkan dan menarik juga mengapa Kyai Qomari, Penghulu Keraton Jogya yang diambil menantu oleh orang terpandang di wilayah ini justru kemudian mendirikan masjid indah dengan ciri khas kraton, Mustaka Kembang Gambir. Dari Masjid Ngebong inilah kemudian syiar Islam berkembang dengan pesat. Makam Kyai dan Nyai Qomari justru sangat sederhana masih terawat dengan baik di pemakaman sebelah utara Masjid. ( Sadhono Hadi )